Resep Playdough
(mainan untuk anak yang dapat di bentuk bentuk)
1. Uncooked Playdough
Bahan :
1 cup air dingin
1 cup garam
2 sdm minyak goreng
3 cups tepung terigu
2 sdm tepung maizena
zat warna (lebih bagus pewarna makanan agar tdk beracun)
Cara:
Dalam sebuah mangkok besar, campur air, garam, minyak, dan zat warna. Tambahkan tepung dan maizena sampai konsistensinya seperti adonan roti. Simpan di tempat tertutup.
2. Salt Playdough (dimasak)
Bahan:
1 cup garam
1 cup air
1/2 cup tepung
ekstra tepung
Cara:
Campur garam, air, dan tepung dalam panci, masak dengan api sedang. Angkat dari atas kompor ketika adonan kental dan rubbery (seperti karet). Ketika adonan mendingin, uleni adonan dengan tepung lagi agar bisa dibentuk.
3. Colored Playdough
Bahan:
1 cup air
1 sdm minyak goreng
1/2 cup garam
1 sdm cream of tartar
1 cup tepung
zat warna (pewarna makanan)
Cara:
Campur air, minyak, garam, cream of tartar, dan zar warna dalam panci, panaskan sampai hangat. Angkat dari api, tambahkan tepung. Aduk dan uleni sampai halus. Cream of tartar membuat dough ini tahan sampai 6 bulan, jadi jika tidak punya boleh tidak pakai (tapi play dough-nya jadi ngga' awet). Simpan di tempat yang rapat atau ziploc freezer bag.
Senin, 13 Juli 2009
Minggu, 21 Juni 2009

Konsep ‘mati’ masih sulit ditangkap oleh anak yang masih kecil. Bagaimana menjelaskan kepada mereka jika ada orang yang mereka cintai meninggalkan mereka untuk selama-lamanya?
Mira bingung, tak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar duka meninggalnya sang mertua pada putranya, Rendra. Apalagi Rendra sangat dekat dengan kakeknya. Sehingga ia terus menerus menunda untuk memberitahu Rendra, bahkan menitipkan Rendra ke rumah kerabatnya yang lain pada saat pemakaman. Sebenarnya bagaimana cara menyampaikan berita kepada si kecil dan apakah yang dilakukan Mira itu bijaksana?
Memang tak mudah membicarakan kematian pada anak yang masih kecil dan masih belum bisa memahami konsep ‘mati’. Seperti anak usia dua tahun ke bawah. Mereka masih dibingungkan dengan ‘hilangnya’ orang yang mereka cintai dan sering mencari-cari. Anak pra sekolah sulit memahami konsep kematian, sehingga mereka masih mengharapkan orang yang meninggal akan kembali suatu hari nanti.
Beda lagi dengan anak usia lima hingga delapan tahun. Anak-anak usia ini terkadang memiliki pemikiran yang ‘aneh’, seperti kerap meyakini bahwa dirinyalah yang menyebabkan kematian seseorang maka mereka kerap berperilaku super-baik dengan harapan dapat mengembalikan orang yang meninggal tersebut. Pada umumnya anak baru bisa memahami konsep ‘mati’ di atas usia sembilan tahun. Anak-anak usia ini lebih tertarik pada aspek spiritual daripada kematian untuk membuat mereka merasa nyaman. Sedangkan anak yang usianya lebih besar merasa lebih nyaman untuk membicarakan hal ini pada temannya, namun mereka masih membutuhkan kehadiran orangtua untuk menemani mereka di masa-masa sulit ini.
Meski tak mudah menjelaskan masalah kematian pada anak, namun pembicaraan mengenai hal ini haruslah terbuka dan jujur. Menunda pembicaraan mengenai ini seperti yang dilakukan Mira akan membuat si kecil merasa dibohongi sehingga akan memperburuk suasana hati mereka saat mereka mengetahui hal ini kelak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memberi penjelasan pada si kecil mengenai kematian, antara lain:
* Hindari ‘memperhalus’ penjelasan bahwa meninggal sama dengan tidur atau pergi jauh. Hal ini akan membuat si kecil terus berharap bahwa orang yang dicintainya kelak akan bangun atau kembali.
* Beri penjelasan sesederhana mungkin, namun jelas, misalnya; “Nenek meninggal. Ini berarti kita tidak bisa bertemu lagi dengan nenek.”
* Anda dapat memberi penjelasan lebih lanjut jika si kecil bertanya. Namun jika si kecil terlihat bingung, Anda dapat memancingnya dengan bertanya apa yang dipahaminya tentang kematian. Hal ini penting agar Anda dapat meluruskan pendapatnya yang salah.
* Jika si kecil bertanya mengapa orang bisa meninggal, jelaskan bahwa orang tersebut sudah sangat tua atau sakit yang tidak bisa sembuh lagi.
* Walaupun mungkin Anda sendiri sedang berduka, namun temani si kecil sebisanya. Saat ini adalah saat yang sangat membingungkan bagi mereka, dan mereka membutuhkan kehadiran Anda. Penolakan Anda terhadap kehadiran si kecil di dekat Anda dapat membuat mereka merasa ‘terhukum’ dan merasa bersalah akan kematian orang yang dicintainya.
* Reaksi si kecil terhadap ‘kematian’ bisa bermacam-macam. Terkadang mereka terlihat tidak peduli dan malah main kubur-kuburan dengan bonekanya atau menggambarkan orang yang mati. Cara ini adalah cara mereka mengatasi perasaan mereka terhadap hilangnya orang yang mereka cintai.
* Jika perlu, ajak si kecil mengekspresikan perasaannya dengan menanyakan secara langsung. Kalau perlu Anda pun dapat ikut menangis bersamanya. Setelah itu ajaklah ia mengenang hal-hal yang baik dari orang yang meninggal tersebut dengan saling bercerita, atau membuka-buka album foto dan sebagainya.
* Jika terdapat tanda-tanda seperti kecemasan yang berlebihan, regresi, atau si kecil berperilaku seperti usia sebelumnya, misalnya mengompol, perubahan perilaku yang tampak nyata misalnya sering menangis, sulit makan, dan sebagainya, yang berlangsung hingga berbulan-bulan tanpa dapat diatasi, mungkin sudah saatnya Anda konsultasikan hal ini kepada seorang ahli, misalnyapsikolog anak untuk penanganan lebih lanjut. « [esthi]
sumber : http://alifmagz.com/wp/index.php/2009/06/14/membicarakan-kematian-dengan-anak/
Sabtu, 24 Januari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)